Sabtu, 03 September 2011

Dibalik Kisah Pembajakan Kereta Gayana, Sersan Darso Depresi Lama tak Punya Anak

ZonaSemu, - Sersan Satu Darso nama pria itu. Darso mendadak menjadi buah bibir setelah aksi nekatnya membajak Kereta Api Gajayana memaksa anggota kepolisian terlibat baku tembak dengannya di Stasiun Senen, Sabtu lalu.
http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/ka-gajayana.jpg
Darso masuk TNI pada tahun 1985 melalui jalur Tamtama. Di awal karirnya sebagai Tamtama TNI, Darso ditempatkan di kesatuan tempur di Batalyon II Infanteri Cilandak. Lama berkarir sebagai Tamtama, di akhir milenium kedua, Darso pun diangkat menjadi seorang Bintara TNI.
Meski masih berstatus Tamtama TNI, Darso sudah mempersunting seorang wanita asal Indramayu. Pernikahan itu berlangsung pada 1995. Sayangnya, hingga 16 tahun usia perkawinannya, Darso belum dikaruniai anak.
"Si Darso selama mengarungi bahtera rumah tangga belum dikaruniai anak," ungkap Kadispen TNI AL Untung Suropati kepada Tribun.

Enam belas tahun menikah tanpa dikaruniai anak, Darso pun depresi. Marinir di Yon Marhanlan III di Sunter Kelapa Gading itu pun nekat membajak kereta Gajayana. Setidaknya, itulah hasil penyidikan sementara Polisi Militer Angkatan Laut (POM AL) terhadap Darso."Ada indikasi gangguan kejiwaan, stres atau dalam bahasa kesehatannya depresi," kata Untung.

Depresi memang baru dugaan awal motif Darso membajak kereta. POM AL akan menelusuri lebih jauh kebenaran dugaan mereka itu dengan bantuan psikiater. Ya, Darso akan diperiksa kondisi kejiwaannya oleh psikiater setelah kondisinya dianggap sudah membaik. Disebut jika sudah membaik lantaran saat ini kondisi Darso masih labil. Kelabilan yang menyebabkan POM AL memutuskan menghentikan laju penyidikan mereka terhadap Darso, sementara waktu.
"Sampai ada kemajuan dari kesehatannya terutama aspek kejiwaan. Kalau sekarang ditanya, dia jawabnya masih simpang siur. Ngalur ngidul," imbuh Untung.

Berhenti sementara memintai keterangan Darso perihal motifnya membajak kereta Gajayana, POM AL ganti memeriksa istri Darso. Kegiatan memintai keterangan istri Darso tersebut, sudah dilakukan POM AL beberapa hari lalu. Pertimbangannya, jika benar Darso depresi, POM AL ingin tahu apa gerangan yang menyebabkan hal itu.
"Kan bisa saja bersumber dari keluarga. Atau bisa juga ternyata justru dari kesatuan atau dari perilaku hidup dia selama ini," ujar Untung.

Kisah Darso membajak kereta Gajayana bermula dari stasiun Trisi Indramayu. Tak seperti penumpang lainnya, Darso naik ke kereta yang dibajaknya itu lewat atap. Dari atap, dia lalu merayap dan masuk ke lokomotif kereta. Di stasiun Haurgeulis dia menodongkan senjatanya ke arah dada dan leger masinis Yodian Wiliarso.

Ihwal penyebab Darso berada di stasiun itu bukan tanpa kisah. Sebelumnya, Darso ke Indramayu untuk menyusul sang istri. Istri Darso berada di kampung halamannya untuk merayakan hari Raya Idul Fitri 1432 H. Darso, ungkap Untung, tak sadar sepenuhnya sebab dirinya berada di stasiun itu dan lalu naik kereta Gajayana. "Namanya orang stres," imbuh Untung.

Kehidupan Darso sebagai lelaki yang belum sempurna dengan anak di sisinya itu memang sangat dicurigai POM AL sebagai akar musabab Darso membajak kereta Gajayana.
"Sekuat-kuatnya orang pasti nggak tahan juga," kata Untung mengakhiri rangkuman hasil penyelidikan sementara terhadap aksi Darso membajak kereta. Lalu akankah Darso lolos dari jerat hukum berbekal depresi yang menderanya itu? "Kita lihat nanti. Ini kan (penyidikan) belum selesai. Nanti kalau sudah selesai baru kita ambil kesimpulan," jawab Untung.
tribunnews.com

Jangan Lupa Di Like Ya Gan...


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar